Isnin, 10 Ogos 2015

Mengapa Kita Mengalami Hujan Meteor

Saat melihat langit malam, kita kadang-kadang melihat kilasan cahaya meteor di langit. Umumnya dikenal sebagai bintang jatuh, mereka dapat dilihat pada setiap saat sepanjang tahun. Tapi ada saat-saat ketika sejumlah besar dari mereka dapat dilihat di langit malam. Bahkan terkadang hingga lebih dari 100 meteor per jam. Tapi kenapa fenomena hujan meteor ini terjadi?



Sebagian besar meteor yang kita amati adalah partikel debu seukuran butiran pasir. Saat partikel-partikel ini menyerang atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, udara di sekitarnya dipanaskan sampai titik di mana ia terionisasi dan bersinar. Meteor itu sendiri biasanya terbakar sangat cepat dan tidak pernah mencapai tanah. Ada sejumlah kecil debu menyebar ke seluruh sistem tata surya kita, dan ini adalah mengapa mereka dapat terjadi setiap saat.

Hujan meteor terjadi ketika ada konsentrasi partikel debu masuk ke atmosfer bumi. Hal ini terjadi ketika Bumi melewati dekat orbit komet. Saat komet melewati bagian dalam tata surya, cahaya dan panas dari matahari menyebabkan permukaannya melontarkan gas dan debu. Inilah yang memberikan sebuah komet ekornya, tetapi juga berarti bahwa komet melepaskan jejak debu. Debu yang banyak ini terus mengorbit Matahari di lintasan yang sama seperti komet itu sendiri. Kemudian saat Bumi melalui wilayah tersebut, banyak meteor masuk ke atmosfer bumi dan dapat terjadi dalam hitungan jam.


Bagi banyak hujan meteor, kita benar-benar tahu komet apa yang menyebabkannya. Misalnya, hujan meteor Perseid berasal dari sebuah komet yang dikenal sebagai Swift-Tuttle, yang terakhir kali melewati dekat Matahari pada tahun 1992 dan tidak akan kembali sampai tahun 2126. Hujan meteor Orionid akan terjadi pada bulan Oktober memiliki asal-usul dari Komet Halley .

Karena kita tahu bahwa hujan meteor berasal dari komet, lalu kenapa kita tidak menamai mereka dengan nama komet asal mereka? Hujan meteor telah dikenal jauh sebelum mereka diketahui terkait dengan komet asal mereka, oleh karenanya mereka diidentifikasi dengan wilayah langit dari mana mereka seakan terlihat muncul atau berasal. Perseids sebagian besar terlihat muncul dari daerah dekat konstelasi Perseus, maka dinamai Perseid. Alasan hujan meteor muncul dari daerah yang sama dari langit adalah bahwa sebagian besar dari mereka menyerbu masuk ke atmosfer bumi dari arah yang sama secara umum (arah orbit kometnya). Karena perspektif, kita melihat meteor seakan datang dan berasal dari arah yang sama dengan satu wilayah langit, seperti rel kereta api paralel yang seakan muncul dari satu titik di cakrawala.


Di bulan agustus, bumi melintas dekat salah satu orbit komet yaitu komet Swift-Tuttle yang penuh dengan awan partikel debu dari komet tersebut. Ini menyebabkan bumi akan mengalami hujan meteor Perseid yang akan mencapai puncaknya pada 12-13 Agustus 2015 malam ini. Untuk melihatnya, amati dengan seksama rasi bintang Perseus di arah Timur Laut menjelang tengah malam. Cahaya-cahaya komet akan muncul dari titik radian dekat rasi bintang tersebut.


Sebuah perspektif dari bumi di orbitnya, orbit komet 109P / Swift-Tuttle, dan radian hujan meteor Perseid, yang menunjukkan hubungan spasial mereka pada 12 Agustus 00:00 UTC. Awan debu Perseid yang cukup lebar (~ 0.1 AU), mengisi frame.


Baca Juga:





Ahad, 9 Ogos 2015

Sejarah Terbentuknya Pulau Jawa dan Gunung Api Purba

Kisah kebumian yang menarik dan ‘menakjubkan’, sebagian diantaranya bahkan berkelas dunia, tercatat rapi dalam singkapan sejarah geologi Nusantara, salah satunya di Pulau Jawa. Yang istimewa, bukti-bukti warisan kebumian banyak terkumpul di seputar Daerah Istimewa Yogyakarta. Disini, sejumlah situs geologi dan warisan rupa bumi dari berbagai periode waktu yang mencapai puluhan juta tahun lampau, terkumpul dalam bentang area yang tak terlampau berjauhan. Kelengkapannya bahkan bisa dianggap mewakili sejarah geologi Pulau Jawa secara keseluruhan.



Masa-masa awal terbentuknya Pulau Jawa diperkirakan terjadi lebih dari 60 juta tahun yang lalu (Zaman Pre-Tersier), ketika pulau ini masih menjadi bagian dari sebuah benua besar yang dikenal sebagai superbenua Pangea.

Susunan batuan dasar yang membentuk Pulau Jawa memiliki asal-usul dan umur yang berbeda satu dengan yang lainnya. Jawa bagian barat diperkirakan telah terbentuk pada akhir Zaman Kapur (145 hingga 65 juta tahun lalu) dan menjadi bagian dari Paparan Sunda (Sundaland Core), sementara Jawa bagian timur diyakini berasal pecahan kecil benua Australia (sejumlah peneliti menyebutnya sebagai East Java Microcontinent). Bagian timur ini diperkirakan mulai ‘menabrak’ dan bergabung dengan bagian barat sekitar 100-70 juta tahun yang lalu hingga menciptakan bentuk awal Pulau Jawa yang ada saat ini.

Artinya, Pulau Jawa terbentuk dari gabungan dua lempeng benua dan bagian barat Pulau Jawa diyakini memiliki umur yang lebih tua dibanding bagian timurnya. Batas di antara kedua bagian ini tertandai dengan adanya sesar purba yang membentang dibawah Sungai Luk Ulo di Kebumen, Jawa Tengah, menyeberangi Laut Jawa dan berakhir di Pegunungan Meratus yang membelah Kalimantan Selatan.

Saat ini, hanya ada tiga tempat yang memiliki rekam jejak sejarah kebumian dari masa awal terbentuknya Pulau Jawa, yaitu Teluk Ciletuh (Sukabumi, Jawa Barat), Karangsambung (Kebumen, Jawa Tengah) dan Bayat (Klaten, Jawa Tengah). Rekaman ini tersimpan dalam bentuk singkapan yang menampakkan batuan dasar tertua yang berumur hingga sekitar 96 juta tahun. Singkapan ini terjadi sebagai akibat dari proses tumbukan antar lempeng disertai dengan erosi yang berlangsung terus-menerus dalam rentang waktu yang sangat panjang, jutaan tahun lamanya.


Dari masa ke masa, proses geologis berlangsung tanpa henti, menyusun beragam wujud muka bumi yang berbeda-beda. Proses pengendapan pertama diperkirakan terjadi antara 54 hingga 36 juta tahun lalu (Kala Eosen). Berbagai material terendapkan di cekungan-cekungan yang terbentuk akibat peregangan lempeng. Tersingkapnya batuan konglomerat, batugamping, batupasir serta batubara, menunjukkan ciri pengendapan sungai, danau dan laut dangkal yang terjadi saat itu.

Pada masa berikutnya, ketika Pulau Jawa sudah mulai terbentuk dengan poros membujur arah barat dan timur, muncul tekanan dahsyat dari arah selatan. Perlahan namun pasti, lempeng samudera Indo-Australia yang bergerak ke arah utara ‘menabrak’ lempeng benua Eurasia dari sisi selatan pada zona yang berposisi sejajar dengan Pulau Jawa.

Lempeng samudera yang memiliki densitas atau massa jenis yang lebih tinggi mengalami subduksi atau penunjaman. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi penyebab terbentuknya palung laut, pegunungan, serta aktifitas vulkanik yang memunculkan bentukan gunung berapi. Sebagian material lempeng samudera Indo-Australia mengalami pelelehan, mencair menjadi magma dan menciptakan jalur vulkanik dalam posisi sejajar dengan poros panjang Pulau Jawa.

Inilah kelanjutan peristiwa yang menjadi bagian penting dari rangkaian sejarah terbentuknya Pulau Jawa, ditandai dengan mulai terbentuk gugusan gunung api purba sebagai jalur vulkanik yang berjajar di bagian selatan dan menjadi tulang punggung Pulau Jawa jutaan tahun yang lalu.


Menarik untuk dicatat, dalam kurun waktu antara 36 hingga 10,2 juta tahun lalu ini (Kala Oligosen Akhir hingga Kala Miosen Awal), pada gugusan gunung api purba di Pulau Jawa ini, diperkirakan telah terjadi rangkaian peristiwa vulkanisme yang teramat dahsyat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan singkapan lapisan batuan piroklastik serta ditemukannya batupasir vulkanik yang sangat tebal sebagai hasil erupsi gunung berapi purba. Berdasarkan bukti-bukti geologis yang ditemukan di sekitarnya, setidaknya telah dikenali dua gunung api purba yang di kalangan ahli geologi dinamai berdasarkan lokasi penemuan bukti-bukti geologisnya, bukan berdasarkan letak titik pusat aktifitas vulkaniknya. Kedua gunung api itu adalah Gunung Api Purba Semilir dan Gunung Api Purba Nglanggeran.

Konon, berdasarkan bukti endapan yang dihasilkannya, ditengarai pernah terjadi erupsi katastropik Gunung Api Purba Semilir yang kekuatannya nyaris setara dengan Supervolcano Toba di Sumatera (74.000 tahun yang lalu) dan Supervolcano Yellowstone di Wyoming, Amerika Serikat (2,1 juta tahun yang lalu). Kekuatan erupsi Gunung Api Purba Semilir saat itu diperkirakan tak kurang dari 10 kali lebih besar dari erupsi Gunung Tambora (1815), 100 kali lebih besar dari erupsi Gunung Krakatau (1883) dan 1000 kali lebih besar erupsi Gunung St. Helena di Washington, Amerika Serikat (1980).

Inilah masa-masa dimana gunung api purba mengalami kejayaannya di Pulau Jawa. Namun pada kisaran 16 hingga 2 juta tahun yang lalu (Kala Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir) kegiatan magmatisme di gugusan gunung api purba ini mulai jauh berkurang.

Gunung Purba Nglanggeran di Gunung Kidul Yogyakarta

Saat itu, situasi di sebagian besar Pulau Jawa masih berada dalam genangan laut dengan kehidupan biotanya yang berkembang dengan baik. Daerah pegunungan selatan merupakan daerah laut dangkal dengan airnya yang cenderung tenang, jernih, memiliki sumber makanan yang memadai, serta mendapatkan sinar matahari yang cukup. Kondisi ini memungkinkan terbentuknya koloni koral atau kompleks terumbu yang sangat luas serta berkembang biaknya biota laut, seperti plankton, moluska, algae dan masih banyak lagi. Fakta ini terekam dengan baik dan dapat diamati pada ragam singkapan batugamping yang sangat tebal dan meluas di sepanjang sisi selatan dan sisi utara Pulau Jawa saat ini.

Pada kisaran 12 juta tahun yang lalu (Kala Miosen Tengah), mulailah terjadi pelandaian kemiringan penunjaman lempeng samudera Indo-Australia, sehingga proses pelelehan yang menghasilkan magma ikut bergeser ke arah utara. Proses ini terus berlanjut sampai sekitar 1,8 juta hingga 11.500 tahun yang lalu (Kala Pleistosen) dan masih tetap berlanjut hingga saat ini (Kala Holosen), meninggalkan gugusan gunung api purba yang telah terbentuk sebelumnya di sisi selatan Pulau Jawa.

Pergeseran jalur vulkanik yang mencapai jarak sekitar 50 hingga 100 kilometer ke arah utara ini, secara otomatis telah menonaktifkan semua gunung berapi purba, karena suplai magma hasil pelelehan di bawah permukaan bumi telah bergeser ke utara. Aktifitasnya gunung api purba seperti Nglanggeran, Semilir dan kemungkinan pusat-pusat erupsi lainnya, berangsur-angsur mulai turun, bahkan bisa dikatakan nyaris tak bersisa lagi. Kondisi Pulau Jawa pun menjadi relatif stabil, meskipun kegiatan magmatisme tetap ‘terpelihara’ oleh alam, bergeser ke sebelah utara.

_____________________________________________________________________________________________________

Tidak selamanya gunungapi itu hidup dan aktif, ada masa-masanya sebuah gunung api itu lahir, aktif akhirnya tertidur pulas dan mati. Secara mudah penjelasan diatas dapat digambarkan seperti dibawah ini.

Matinya gunungapi karena pergeseran zona subduksi
sumber gambar: rovicky.wordpress.com

Contoh diatas itu merupakan penjelasan matinya gunung-gunung api aktif akibat pergeseran zona subduksi atau zona penunjaman yang melandai. Namun dapat juga sebuah penunjaman mencuram sehingga seakan bergerak mundur atau kekiri.

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS An Naml : 88)

_____________________________________________________________________________________________________


Pengendapan delta, sungai dan laut dangkal diatas Pulau Jawa menjadi proses alamiah yang telah berlangsung dalam kurun waktu antara 25,2 hingga 5,2 juta tahun silam. Penurunan muka air laut terjadi secara berangsur-angsur, mengiringi pengendapan-pengendapan material di daratan dan tepi laut. Pada saat yang sama, lempeng samudera Indo-Australia pun terus bergerak menekan lempeng benua Eurasia.

Sebagai akibatnya, perlahan namun pasti, pegunungan selatan Pulau Jawa mulai mengalami pengangkatan, sehingga daerah-daerah yang dahulunya berupa lingkungan laut dangkal, sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi daratan, bahkan sebagian diantaranya berubah menjadi perbukitan. Proses pembentukan berikut pusat aktifitas gunung api pun terus bertumbuh, beriringan dengan pengangkatan, pemiringan, erosi serta pertumbuhan terumbu secara ekstensif yang mungkin bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Rangkaian peristiwa alam ini terus berlanjut dalam rentang jutaan tahun lamanya, hingga mencapai bentukan sempurna Pulau Jawa sebagaimana penampakannya di saat ini, dengan gugusan gunung berapi ‘muda’ di bagian tengahnya.

Singkapan di Karangsambung Kebumen

Bukti-bukti sejarah geologi Pulau Jawa ini terkumpul dalam bentang area yang tak terlampau berjauhan di seputar Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Karangsambung dan Sungai luk Ulo, Kebumen di sebelah barat hingga Kawasan Karst Pegunungan Seribu di sebelah timur. Dari seputar Bayat di Klaten sebagai salah satu yang tertua, hingga Gunung Merapi yang mewakili usia ‘muda’.

Semuanya menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tak akan pernah habis digali dan diolah menjadi bahan pelajaran berharga, untuk memahami berbagai fenomena alam dan tatacara beradaptasi yang harus dilakukan oleh manusia yang menghuninya. Terlebih dalam memahami dan menyikapi beragam fenomena kebencanaan yang dalam pemahaman sebagian kalangan awam, seolah baru muncul secara tiba-tiba dalam beberapa dekade terakhir di zaman ini.


Baca Juga:








Sumber: kabaremagazine

Nebula Planet

Seiring waktu, sebuah bintang dari seukuran hingga 8 kali ukuran matahari, akan membengkak menjadi raksasa merah besar. Ketika bintang sudah terlalu besar dan mulai kehabisan bahan bakarnya, bintang akan runtuh, mendepak lapisan luar bintang sebagai gas dan menyisakan inti bintang yang kecil di pusat awan gas itu. Proses seperti menciptakan apa yang disebut nebula planet - sebuah nama yang diberikan karena nebula planet pertama yang ditemukan tampak seperti planet Uranus.

Artikel ini mengetengahkan 2 contoh nebula planet dari ribuan nebula planet yang telah terdeteksi


 Southern Owl Nebula

Sebuah bintang yang runtuh telah melepaskan cangkang gas bercahaya ini, yang dikenal sebagai nebula burung hantu selatan (Southern Owl Nebula), yang telah mengembang sebesar 4 tahun cahaya. Fenomena inilah yang akan terjadi pada matahari kita dan bintang-bintang lainnya hingga delapan kali ukuran matahari saat mereka memasuki akhir hidupnya. (Bintang yang lebih besar, keruntuhannya akan memicu ledakan supernova bukan pelepasan gas)

Seperti semua nebula planet, Southern Owl Nebula atau ESO 378-1, fenomena ini berlangsung untuk waktu yang singkat dibandingkan dengan umur hidup bintang secara keseluruhan. Nebula hanya akan bertahan puluhan ribu tahun sebelum memudar bubar. "Umur dari nebula planet sebagai sebagian kecil dari kehidupan bintang adalah sama seperti kehidupan gelembung sabun dibandingkan dengan usia anak yang meniupnya," kata pejabat European Southern Observatory dalam sebuah pernyataan.



Saat bintang-bintang seperti matahari membesar di hari tuanya mereka kemudian mulai kehilangan lapisan luar mereka. Setelah sebagian besar lapisan luar telah hilang, inti bintang panas yang tersisa mulai memancarkan radiasi ultraviolet yang kemudian mengionisasi gas sekitarnya. Ionisasi ini menyebabkan cangkang gas yang mengembang mulai bersinar dalam warna-warna cerah.

Setelah nebula planet telah memudar, bintang yang tersisa akan terus membakar selama miliar tahun sebelum mengkonsumsi semua bahan bakar yang tersisa dan kemudian akan katai putih (yang perlahan-lahan akan mendingin selama miliaran tahun) tetapi tetap panas dan sangat padat. Matahari akan menghasilkan nebula planet beberapa miliar tahun di masa depan setelah menelan planet-planet terdalam (inner planet) termasuk bumi dan setelah itu akan juga akan menghabiskan akhir waktunya sebagai kerdil putih.

Para peneliti berpikir ada sekitar 10.000 nebula planet di Bima Sakti saat ini, tetapi hanya sekitar 1.500 telah terdeteksi.




Little Gem Nebula

Gelembung warna-warni ini adalah nebula planet yang disebut NGC 6818, juga dikenal sebagai nebula batu mulia kecil (Little Gem Nebula). Terletak di konstelasi Sagitarius (The Archer), kira-kira 6.000 tahun cahaya dari kita. Awan kaya cahaya yang terlihat pada gambar membentang lebih dari setengah tahun cahaya - sangat besar dibandingkan dengan bintang yang berada di pusatnya - tapi masih sangat kecil dalam skala kosmik.

Nebula planet dapat memiliki bentuk yang sangat kompleks. NGC 6818 menunjukkan struktur seperti filamen rumit dan lapisan-lapisan materi yang berbeda, dengan gelembung pusat yang cerah dan tertutup dikelilingi oleh awan difus yang lebih besar

Para ilmuwan percaya bahwa angin bintang dari bintang pusat mendorong materi yang mengalir keluar, memahat bentuk terulur dari NGC 6818. Saat angin cepat ini menghantam awan yang bergerak lebih lambat, maka terciptalah ledakan terang di lapisan luar gelembung ini.

Hubble sebelumnya pernah mencitrakan nebula ini pada tahun 1997 dengan Wide Field Planetary Camera 2 nya, menggunakan campuran filter yang menampakkan emisi dari oksigen dan hidrogen terionisasi (gambar bawah). Sedangkan  Gambar diatas, meskipun dari kamera yang sama, menggunakan filter yang berbeda untuk mengungkapkan pandangan yang berbeda dari nebula.



Nebula planet memainkan peran penting dalam pengayaan unsur-unsur dan evolusi alam semesta. Unsur-unsur seperti karbon dan nitrogen, serta beberapa unsur yang lebih berat lainnya, diciptakan di dalam bintang-bintang ini dan kembali ke medium antarbintang. Dari materi bintang-bintang inilah, bintang baru, planet-planet dan akhirnya kehidupan dapat terbentuk. Oleh karena itu astronom Carl Sagan mengatakan ucapannya yang terkenal: "Kita semua terbuat dari material bintang"


Baca Juga:






Sumber:

Khamis, 6 Ogos 2015

Dapatkah Kita Melihat Nebula?

Anda sudah tidak diragukan lagi anda pasti telah banyak dan sering melihat gambar-gambar dari obyek-obyek astronomi seperti galaksi dan nebula lengkap dengan warnanya..

Tapi apakah obyek-obyek itu benar-benar berwarna seperti yang disajikan? Jawaban yang sederhana adalah 'tidak selalu'.

Gambar obyek-obyek jauh di ruang angkasa sebenarnya sering mengalami banyak proses untuk mengubah apa yang tampak seperti langit malam jika dilihat mata telanjang, menjadi obyek dengan ledakan warna.

Astronom amatir Richard Bloch mengungkapkan teknik yang digunakan dalam video YouTube, menggunakan gambar dari Rosette Nebula.

Pertama lihatlah gambar dibawah ini baik-baik

Dapatkah anda melihat Nebula dalam gambar ini?

Gambar di atas mungkin hanya terlihat seperti snapshot generik dari langit malam, tetapi yang tersembunyi dalam data, sebenarnya merupakan nebula besar yang mencakup sebagian besar gambar, sebagaimana terungkap dalam video.

Memang, jika Anda mampu melakukan perjalanan ke nebula, Anda mungkin akan kecewa. Tak satu pun dari gas akan terlihat dengan mata telanjang manusia.

Fitur yang terbuat dari debu dan gas, seperti yang ditunjukkan pada gambar yang diproses, sebenarnya ada - tapi mata manusia hanya tidak sensitif terhadap panjang gelombang cahaya yang mereka pancarkan.

Hanya dengan memanipulasi gambar, fitur sebuah nebula yang tak terlihat ini dapat diungkapkan - sebuah 'trik' yang dilakukan NASA untuk meningkatkan (enhance) gambar-gambar kosmosnya.

Mr Bloch menjelaskan metode yang digunakan untuk mengungkapkan fitur kosmik tersembunyi, dengan warna menyoroti beberapa rincian dan fitur yang tidak akan terlihat oleh mata kita.

Itu karena mata kita terbatas dalam panjang gelombang yang dapat kita lihat; kita hanya sensitif terhadap cahaya tampak pada spektrum elektromagnetik.

Sedangkan Teleskop dan kamera  modern, dapat digunakan untuk mengungkapkan cahaya dalam panjang gelombang lain, dari inframerah hingga ultra violet.

Dalam videonya, Mr Bloch mengumpulkan data dari Rosetta Nebula pada tanggal 1 Desember 2014 dari Torrance Barrens Gelap Sky Preserve di Ontario, Kanada.



Dia mengambil gambar menggunakan kamera Canon T3i yang melekat pada teleskop, dan menciptakan gambar menggunakan PixInsight 1,8.

Video dimulai dengan hasil tangkapan yang sangat biasa-biasa dari langit malam, lengkap dengan ribuan bintang, dan tidak ada nebula terlihat dalam gambar.

Tapi metode yang disebut 'Stretching' (peregangan) kemudian mengungkapkan nebula yang tersembunyi di bagian paling gelap dari gambar.

Mr Bloch mengatakan jika setiap pixel dikatakan memiliki nilai dari 0 sampai 255, seluruh nebula akan berada di wilayah 0-50 - tidak terlihat oleh mata manusia.

Stretching adalah mengambil yang 0-50 itu dan memetakannya di 0 sampai 255 sehingga bagian terang dari nebula adalah bagian terang dari gambar.

Setelah peregangan gambar, ia melakukan beberapa 'pengurangan noise' untuk membersihkan citra data berlebihan dan kemudian menambahkan beberapa warna untuk gambar, dengan warna yang berbeda sesuai dengan gas dan unsur-unsur yang berbeda.

Dia kemudian mengurangi ukuran dari beberapa bintang sehingga mereka tidak menghalangi pandangan nebula, sebelum memperbaiki kontras dan menciptakan gambar akhir.

Teknik ini dia gambarkan sangat mirip dengan apa yang dilakukan NASA saat membuat gambar yang mengagumkan.

Seperti yang dijelaskan oleh NASA, Hubble merekam cahaya dari alam semesta dengan detektor elektronik, bukan dengan film seperti kamera biasa. Warna kemudian ditambahkan di kemudian hari.

'Warna dalam gambar Hubble, yang ditambahkan untuk berbagai alasan, tidak selalu seperti apa yang kita lihat seandainya kita mampu untuk mengunjungi objek yang dicitrakan" kata NASA di situs web Hubble mereka.

"Kami sering menggunakan warna sebagai alat, apakah itu untuk meningkatkan detail objek atau untuk memvisualisasikan apa yang biasanya tidak pernah dilihat oleh mata manusia."


Cahaya dari obyek astronomi datang dalam berbagai warna, masing-masing sesuai dengan jenis tertentu dari gelombang elektromagnetik. Hubble dapat mendeteksi semua panjang gelombang cahaya tampak plus banyak lagi panjang gelombang yang tidak terlihat oleh mata manusia, seperti ultraviolet dan sinar inframerah.

Obyek astronomi sering terlihat berbeda di panjang gelombang cahaya yang berbeda. Untuk merekam seperti apa objek akan terlihat pada panjang gelombang tertentu, Hubble menggunakan filter khusus yang memungkinkan hanya panjang gelombang tertentu dari cahaya yang dapat melaluinya.


Baca Juga:







Sumber: dailymail.co.uk

2053 Ledakan Nuklir dalam 53 Tahun

Video yang dibuat oleh Isao Hashimoto dibawah ini adalah video yang menunjukkan setiap ledakan bom atom dan nuklir di Bumi dari tahun 1945 - saat amerika serikat menguji bom atom sebelum menjatuhkannya di Jepang - hingga tahun 1998, ketika India dan Pakistan bergabung dengan kegilaan itu



Video ini cukup mencengangkan dan membuat merinding, melihat betapa banyaknya bom-bom nuklir telah diledakkan selama ini. Tak terbayangkan betapa banyak kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya (belum lagi berapa banyak uang yang dihabiskan). Beberapa kerusakan akibat uji coba bom atom/nuklir ini pernah AMJG postingkan sebelumnya disini, disini dan disini.

Video dimulai dengan lambat, dan berdasarkan hitungan bulan. Amerika serikat adalah negara pertama dan yang paling banyak meledakkan bom atom/nuklir, diikuti oleh Sovyet. Kemudian Inggris dan Perancis mulai ikut-ikutan. Akhirnya tiga negara di Asia juga ikut melakukan uji coba senjata nuklir, China, Pakistan dan India. Ini tentu membuat kita jengkel dan bertanya-tanya, apa yang pemerintah negara-negara tersebut pikirkan? Apakah kemampuan merusak itu membuat mereka merasa hebat? Atau apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa menjaga kelestarian, keutuhan, persatuan itu adalah kehebatan yang sebenarnya? Oke sebelum AMJG lebih banyak berkhotbah lebih baik anda tonton sendiri video dibawah ini  ... hehehe ^_^



Senjata-senjata ini adalah senjata yang mengerikan dan memiliki daya rusak yang hebat. Bayangkan jika setiap negara yang ada di dunia ikut-ikutan membuat dan melakukan uji coba!

Dibawah ini video kompilasi dari beberapa uji coba senjata nuklir:



Tenaga Nuklir seperti pisau yang bisa digunakan untuk memasak, namun juga bisa digunakan untuk membunuh orang. Juga seperti media sosial di internet yang bisa digunakan untuk memfitnah orang, namun juga bisa digunakan untuk silaturahim.

Meskipun belum ada ledakan nuklir lagi di lebih dari satu dekade terakhir, pengetahuan tentang bagaimana membuat senjata nuklir akan selalu bersama kita. Saat ini kita menggunakan tenaga nuklir untuk tujuan damai dan di masa depan kita bahkan dapat menggunakannya untuk menjelajahi tata surya dan seterusnya - kita sudah menggunakan bahan fisil untuk daya beberapa probe - tetapi kita harus selalu diingatkan tentang penggunaan pertama dari tenaga yang dahsyat ini.


Baca Juga:







Sumber:

Li Ching-Yuen - Manusia yang Mencapai Usia 256 Tahun

Li Ching-Yuen atau Li Ching-Yun yang wafat 6 Mei 1933, adalah seorang tabib, ahli bela diri dan penasehat taktis dari Tiongkok. Li tinggal di provinsi Sichuan di Tiongkok dimana umur panjang melambangkan kebesaran seseorang. Pada saat usianya 10 tahun, ia sudah berkelana ke Kansu, Shansi, Tibet, Annam, Siam, dan Manchuria untuk mengumpulkan tanaman obat. Ia terus mengumpulkan tanaman obat hingga berumur 100 tahun.


Beberapa sumber mengatakan bahwa Li telah menguburkan 23 Istri dan pada saat meninggalnya ia hidup bersama istri ke 24. Dari ke-24 istrinya, Li memiliki anak cucu hingga 11 generasi dan berjumlah sekitar 200 orang. Ia memiliki kuku yang panjang sekitar 6 inci. Walapun usianya sudah 200 tahun lebih, namun dalam pandangan orang-orang ia kelihatan seperti seseorang yang berusia 60 tahun-an.

Menurut Li, ia lahir tahun 1736. Namun pada tahun 1930, seorang profesor dari departemen pendidikan universitas Chengdu yang bernama Wu Chung Chieh menemukan sebuah catatan dari kerajaan Tiongkok yang memberikan ucapan selamat kepada Li Ching Yun atas ulang tahunnya yang ke-150 tahun. Ucapan selamat itu diberikan pada tahun 1827. Apabila pada tahun 1827 ia berulang tahun ke-150, maka itu berarti catatan kerajaan menunjukkan bahwa Li lahir pada tahun 1677 dan saat meninggal pada tahun 1933, ia berumur 256 tahun. Fantastis!

Pada saat kematiannya, ucapan dukacita untuk Li dipublikasikan oleh media-media ternama dunia, termasuk The New York Times dan Times Magazine.

Apabila ia lahir tahun 1736 sesuai pengakuannya, berarti ia meninggal pada usia 197 tahun, jauh lebih lama dibandingkan dengan orang tertua yang pernah tercatat yaitu Jeanne Louise Calment dari Perancis yang meninggal pada tahun 1997 di usia 122 tahun 164 hari. Sebelumnya, di Tiongkok juga pernah tercatat adanya seorang yang bernama Chen Jun yang dipercaya meninggal pada usia 443 tahun.

Selama hidupnya, Li dikenal sebagai seorang herbalis dan ahli kungfu. Pada tahun 1749 ketika ia berumur 71 tahun, ia pindah ke kota Kai Xian untuk bergabung dengan pasukan Tiongkok sebagai pelatih kungfu dan penasehat militer.

Kisah hidupnya kemudian mengalir seperti sebuah kisah dari film-film silat yang kita tonton. Salah seorang murid Li, yaitu Master Tai Chi bernama Da Liu menceritakan kisah ini. Pada saat Li berusia 130 tahun, ia berjumpa dengan seorang pertapa di sebuah gunung yang kemudian mengajarinya Jiulong Baguazhang (sembilan naga delapan diagram telapak tangan) dan Qigong (tenaga dalam) dengan instruksi pernapasan khusus, pergerakan dan cara mengkoordinasikannya dengan suara spesifik serta rekomendasi makanan. Da Liu mengatakan bahwa Mr.Li dapat memiliki umur panjang karena ia secara teratur melakukan latihan-latihan tersebut setiap hari, secara teratur, dengan benar dan dengan tulus selama 120 tahun. Sampai saat ini, para praktisi Jiulong Baguazhang modern mengakui bahwa pengetahuan yang mereka peroleh berasal langsung dari Li.

Pada tahun 1933, ia meninggal dunia. li pernah berkata kepada seorang sahabat, "Aku telah menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan di dunia ini, sekarang aku akan pulang." Li Chung Yun meninggal tidak lama setelah itu.

"Jagalah agar hatimu tetap tenang, duduklah seperti kura-kura, berjalanlah dengan riang seperti merpati dan tidurlah seperti seekor anjing." Itulah kalimat nasehat yang diberikan oleh Li Chung Yun ketika seorang kepala suku bernama Wu Pu Fei mengundangnya ke rumah dan menanyakan rahasia umur panjangnya.


Baca Juga:









Sumber: Wikipedia

Saat Bulan Melintas di Depan Bumi

NASA baru saja meluncurkan Deep Space Climate Observatory (DSCOVR) yang kini telah menangkap gambar bulan lewat di muka bumi, memberikan pandangan langka sisi jauh bulan dari lebih dari 1,5 juta kilometer jauhnya.




Bulan seperti yang sudah AMJG jelaskan disini, berada dalam kuncian pasang gravitasi oleh Bumi, yang berarti bahwa ia selalu menunjukkan wajah yang sama ke bumi. Itu berarti kita hanya bisa melihat sisi jauh bulan dari pesawat ruang angkasa yang jauh. Ini bukan pandangan pertama kami di ujung sisi - yang datang pada tahun 1959 ketika Soviet Luna 3 Probe dikirim kembali beberapa terkunci - tapi itu cukup spektakuler.

Rangkaian gambar diambil 15:50-08:45 EDT pada tanggal 16 Juli dengan Bumi polikromatik Pencitraan Kamera (EPIC) di papan satelit DSCOVR, yang dirancang untuk menonton bumi dari kejauhan dan memonitor suasana. Anda dapat melihat Amerika Utara pada awal animasi, dan Australia hanya mengintip di di akhir.


Rangkaian gambar diambil 15:50-08:45 EDT pada tanggal 16 Juli dengan Earth Polychromatic Imaging Camera (EPIC) di papan satelit DSCOVR, yang dirancang untuk mengawasi bumi dari kejauhan dan memonitor atmosfer. Anda dapat melihat Amerika Utara pada awal animasi, dan Australia hanya mengintip di bagian akhir.

Perhatikan dengan seksama dan Anda akan melihat semburat hijau yang aneh di sisi kanan bulan. Itu karena gambar-gambar adalah kombinasi warna merah, hijau dan biru yang diambil 30 detik terpisah. Bulan telah sedikit bergerak di antara setiap gambar, sehingga mereka tidak selaras dengan sempurna, menciptakan warna hijau ekstra.



Foto-foto itu diambil sebagai bagian dari tes untuk mengkonfirmasi bahwa pesawat ruang angkasa tersebut beroperasi seperti yang diharapkan, tapi NASA mengatakan DSCOVR harus menangkap bulan saat melintasi bumi sekitar dua kali setahun.

Dan jika Anda bertanya-tanya mengapa sisi jauh bulan tidak gelap, jangan biarkan Pink Floyd membingungkan Anda - setiap sisi bulan (baik sisi jauh maupun sisi dekat) diterangi matahari setiap dua minggu seiring rotasi bulan, sehingga tidak ada sisi bulan yang gelap permanen. Baca selengkapnya disini: Sisi Gelap Bulan yang Tidak Selalu Gelap

DSCOVR, diluncurkan dengan roket Falcon 9 SpaceX pada bulan Februari. Ia dimasukkan ke dalam sebuah orbit sekitar Matahari yang sekitar 1,5 juta kilometer lebih kecil dari orbit Bumi. Daerah ruang ini disebut titik Lagrange pertama, atau titik L1, dan karena kekhasan gravitasi, ini adalah konfigurasi yang stabil, seperti duduk di palung antara dua bukit. Di tempat ini, DSCOVR menghadap ke Bumi dengan Matahari di belakang satelit, sehingga ia terus-menerus melihat sisi siang hari bumi yang diterangi matahari.

DSCOVR duduk di titik gravitasi yang seimbang antara Bumi dan Matahari, 1,5 juta km lebih dekat ke Matahari

Bulan mengelilingi Bumi sebulan sekali pada orbit miring terhadap orbit bumi mengelilingi matahari. DSCOVR adalah empat kali lebih jauh dari Bumi dibandingkan Bulan, sehingga ia terletak di luar orbit Bulan. Dua kali setahun Bumi, Bulan, dan DSCOVR membentuk garis yang sempurna. Jika waktunya tepat, DSCOVR kemudian akan melihat Bulan melintas di depan atau di belakang bumi, inilah yang astronom sebut transit.

Dalam hal ini, saat Bulan di depan Bumi, DSCOVR melihat sisi jauh Bulan, sisi yang selalu membelakangi Bumi, di mana kita (orang yang di bumi) tak pernah melihatnya. Sisi jauh bulan ini hanya memiliki sedikit fitur gelap besar dibandingkan sisi dekatnya yang selalu kita lihat.

Ini bukan pertama kalinya kita melihat transit seperti itu dari ruang angkasa; Pada tahun 2008 pesawat ruang angkasa EPOXI mengambil serangkaian gambar yang serupa. Namun yang diambil oleh DSCOVR resolusinya lebih tinggi, tentu saja, dengan segala sesuatunya tampak jauh lebih tajam. Berikut animasi EPOXI:



Kita melihat bulan bergerak melintasi langit sepanjang waktu dari Bumi, dan itu adalah hal yang indah. Tetapi ketika kita melihatnya dari luar angkasa, dari sisi lain, hal itu menjadi lebih menakjubkan. "Jarum Jam Langit" adalah keajaiban untuk dilihat, dan sekarang kita bisa melihatnya dari berbagai sudut. Kita bagian dari mekanisme itu, dan itu adalah suatu hal yang sangat baik untuk selalu diingat dari waktu ke waktu.


Baca Juga:





Sumber: newscientist.com