Sabtu, 3 Januari 2015

Gangkhar Puensum - Gunung Tertinggi di Dunia yang Belum Didaki

Gangkhar Puensum adalah gunung tertinggi di Bhutan, dan dengan ketinggian 7570 meter, itu adalah puncak tertinggi ke-40 di dunia. Namun Gangkhar Puensum sampai saat ini masih belum tercatat didaki, meskipun sebagian besar puncak di Himalaya telah ditaklukkan oleh para pedaki dekade lalu.



Gangkhar Puensum terletak di perbatasan Bhutan dan Tibet, meskipun garis batas yang tepat masih diperdebatkan. Peta China menempatkan puncak tepat di perbatasan sedangkan sumber lain meletakkannya sepenuhnya di Bhutan. Ketika gunung pertama kali dipetakan dan disurvei pada tahun 1922, peta wilayah tersebut ternyata sangat tidak akurat. Sampai baru-baru ini, peta wilayah tersebut menunjukkan letak gunung di lokasi yang berbeda dan dicatat dengan ketinggian yang berbeda. Bahkan, salah satu tim pertama yang mencoba memetakan puncak tidak dapat menemukan gunung itu sama sekali.

Negara Bhutan membuka diri untuk pendakian gunung, baru pada tahun 1983, karena mereka selama ini percaya bahwa puncak-puncak gunung adalah tempat tinggal para roh. Ketika Bhutan akhirnya membuka pintu untuk pendakian gunung, serangkaian ekspedisi pun mulai diorganisir. Antara tahun 1985 dan 1986, empat upaya dilakukan, tetapi semua berakhir dengan kegagalan. Kebijakan Bhutan untuk mengizinkan pendakian gunung dengan tujuan komersial pun tidak berlangsung lama. Pada tahun 1994, pemerintah melarang pendakian gunung yang lebih tinggi dari 6.000 meter untuk menghormati kepercayaan spiritual setempat, dan sejak tahun 2004 gunung di negeri ini telah dilarang sepenuhnya untuk didaki.

Lokasi Gangkhar Puensum ditunjukkan oleh penanda "A" di perbatasan Bhutan-Tibet.

Pada tahun 1998, sebuah ekspedisi Jepang memperoleh izin dari Asosiasi Mountaineering China untuk mendaki Gangkhar Puensum dari sisi Tibet. Namun karena sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama dengan Bhutan, akhirnya menyebabkan izin tersebut dicabut. Meski demikian, ekspedisi tersebut berhasil mencapai puncak anak dari Gangkhar Puensum yang tingginya 7.535 meter yang sebelumnya belum pernah didaki yang disebut Gangkhar Puensum Utara, juga dikenal sebagai Liankang Kangri. Catatan yang diambil oleh tim menyarankan bahwa ekspedisi ke puncak utama sebenarnya akan berhasil jika diizinkan. Anehnya, tidak seperti peta yang ada, laporan ekspedisi menunjukkan bahwa Gangkhar Puensum terletak di Tibet, bukan Bhutan, dan perbatasan Tibet-Bhutan ditampilkan melintasi puncak.

Bhutan sendiri belum pernah melakukan survey puncak tesebut, dan tampaknya negara itu tidak tidak berminat melakukannya dalam waktu dekat. Dengan kesulitan izin dari pemerintah serta kurangnya dukungan penyelamatan, tampaknya gunung ini akan tetap tak tertaklukkan hingga di masa-masa yang akan datang.







Baca Juga:







Source

Pulau Terpencil yang Semua Penghuninya Bersaudara

Pulau Palmerston adalah pulau karang di Kepulauan Cook di salah satu bagian yang paling terpencil di Samudera Pasifik, sekitar 3.200 km dari Selandia Baru. Pulau kecil di Pasifik ini tidak memiliki bandara, dan dikunjungi oleh kapal pasokan hanya dua kali setahun. Perjalanan menuju pulau ini begitu panjang dan berbahaya dan hanya pengunjung yang pemberani yang berani datang mengunjunginya. Tapi ketenaran Palmerston bukan hanya berasal dari fakta bahwa itu adalah sebuah pulau surga yang sempurna, tetapi juga dari sejarahnya yang unik.



Palmerston Atoll terdiri dari sejumlah pulau berpasir di cincin koral yang mengelilingi laguna. Enam dari pulau-pulau berpasir tersebut memiliki ukuran yang signifikan termasuk Palmerston, Pulau Utara, Lee To Us, Leicester, Primrose, Toms, dan Cooks, yang luas total mereka hanya 2,6 kilometer persegi. Sedangkan Atol tersebut membungkus area seluas 56 kilometer persegi laut.

Orang pertama yang menginjakkan kaki di Palmerston adalah Kapten Cook pada tahun 1777, meskipun ia telah menemukan pulau itu tiga tahun sebelumnya pada perjalanannya yang lain. Kapten Cook memberi nama pulau itu Palmerston. Pulau ini kemudian tetap tidak berpenghuni selama hampir satu abad sampai William Marsters, seorang tukang kayu dan pembuat kapal penangkap ikan paus, pada tahun 1860 melihat pulau ini. William Marsters begitu terpesona dengan pulau tersebut dan tiga tahun kemudian ia kembali bersama istrinya, putri kepala pulau Cook yang lain, dan dua sepupunya dengan tujuan bermukim secara permanen di pulau itu.



Karena Atol tersebut belum pernah ditinggali pada waktu itu, Marsters menggunakan kayu dari bangkai kapal untuk membangun dan mendirikan sebuah komunitas kecil, yang kemudian termasuk gereja, ruang sekolah dan rumah. Marsters, bersama dengan tiga wanita, memiliki 17 anak-anak yang keturunan mereka membentuk populasi pulau Palmerston sekarang. Hari ini, Palmerston memiliki 62 penduduk, semua kecuali tiga adalah keturunan dari William Marsters.

Sebelum meninggal William Marsters, membagi-bagi pulau sehingga masing-masing dari tiga istri dan keturunan mereka memiliki bagian dari pulau utama dan masing-masing atol. Pengaturan ini masih berlaku sekarang. Hari ini pulau Palmerston memiliki Dewan sendiri, yang mewakili pemerintah daerah, dan anggotanya dari tiga keluarga tersebut. Pernikahan dalam kelompok keluarga dilarang.



Para penghuni pulau Palmerston masih bangga dengan warisan Inggris mereka - mereka mengibarkan bendera Inggris di acara-acara khusus, memiliki foto besar Ratu Inggris di rumah-rumah mereka. Meskipun dikelola oleh pemerintah Kepulauan Cook dibawah yurisdiksi Selandia Baru, pada tahun 1954 keluarga Marsters diberikan kepemilikan penuh atas pulau tersebut.

Kehidupan di Palmerston sederhana. Tidak ada toko, hanya ada dua toilet, dan air hujan dikumpulkan untuk air minum. Uang hanya digunakan untuk membeli persediaan dari dunia luar, bukan dari satu sama lain. Listrik menyala dari pukul 06:00-12:00 setiap hari di pagi dan malam hari. Sebuah stasiun telepon baru dibangun menjadi satu-satunya link permanen ke dunia luar. Ikan merupakan makanan pokok penduduk pulau dan satu-satunya ekspor mereka. Satu atau dua ton ikan parrot beku diambil oleh kapal suplai yang datang dua kali setahun untuk memberikan pasokan penting seperti beras dan bahan bakar.




Selain kapal kargo, pulau juga dikunjungi sekitar selusin kapal tiap tahun membawa wisatawan. Karena tidak ada resort atau hotel, keluarga disana selalu menawarkan rumah mereka sebagai homestay.






Baca Juga:







Source

Jumaat, 2 Januari 2015

Monumen yang Bersinar Indah Setahun Sekali

Kita telah cukup tahu tentang pergerakan bintang dan planet, dan pengetahuan ini diimplementasikan dalam pembangunan monumen yang di dedikasikan untuk para veteran Amerika. Monumen yang disebut Anthem Veterans Memorial di Anthem, Arizona ini, setiap tanggal 11 November pukul 11:11 siang waktu setempat, sinar matahari dengan sempurna melintasi lubang-lubang elips pada lima pilar memorial, dan jatuh tepat pada lambang Amerika Serikat dalam sorotan yang sempurna.



Lima pilar masing-masing mewakili lima cabang militer Amerika Serikat, dan bervariasi dalam ukuran berdasarkan prioritas mereka dalam militer. Batu bata merah bertuliskan nama-nama veteran, dan batu bata merah, pilar putih, dan langit biru, melambangkan warna bendera Amerika. Lubang-lubang berbentuk Elips ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menerangi lambang sampai pukul 11:11 pada Hari Veteran amerika yang jatuh tiap 11 November.


Foto-foto disini telah telah lama beredar di internet. Meskipun beberapa orang menyayangkan mengapa bukan pilarnya yang dibuat memiliki lensa yang menghasilkan lambang di tanah pada waktu tertentu, seperti dalam film Raiders of the Lost Ark, namun masih cukup mengesankan bagi yang melihatnya bahwa hanya pada waktu tertentu, sekali dalam setahun lambang tersebut disinari oleh cahaya matahari dengan sempurna sementara di luar lambang terselimuti bayangan. Itu karena kita memiliki ilmu untuk memprediksi pergerakan bintang dan planet.


Salah satu adegan dalam film Raiders of the Lost Ark

Tanpa masuk ke kasus-kasus ekstrim seperti bergerak mendekati kecepatan cahaya atau mengorbit lubang hitam, benda-benda angkasa dalam sistem surya kita bergerak sesuai dengan fisika Newton. Prinsip-prinsip ini menjelaskan mengapa planet-planet bergerak dengan cara yang mereka lakukan, tapi mereka bukan hukum pertama menggambarkan gerakan planet berdasarkan data. Hukum Johannes Kepler tentang gerak planet datang sebelum hukum Newton, dan berasal dari pengamatan seorang pecinta bintang lainnya, Tycho Brahe. Menggunakan ilmu pengetahuan dan matematika dari para pemikir ini, kita dapat memprediksi posisi semua planet relatif terhadap matahari untuk setiap titik di masa depan.


Hukum Newton dan Kepler yang sangat tepat memungkinkan kita memprediksi gerhana matahari dan bulan untuk seribu tahun ke depan. Bahkan, kemampuan untuk secara tepat melacak planet dan memprediksi gerhana inilah yang memungkinkan Sir Arthur Eddington untuk melakukan uji eksperimental pertama teori relativitas umum Albert Einstein, yang memodifikasi ide Newton dengan memasukkan efek relativistik, menjadi teori yang benar-benar menggambarkan gerakan disekitar bintang-bintang.






Dengan menggunakan ilmu tentang gerak planet, amerika membangun monument yang memungkinkan mereka "menerangi" para veteran mereka. Bayangkan jika ada sebuah bangunan dengan memanfaatkan pergerakan bulan sehingga menunjukkan awal Ramadhan dan Syawal, misalnya? Tentu bangunan seperti itu tidak terlalu sulit untuk dibuat. Yang sulit adalah membangun KESEPAKATAN tentang cara penentuan waktu diantara umat Islam sendiri.


Baca Juga:






Source

Novarupta dan Lembah Sepuluh Ribu Asap

Pada tanggal 6 Juni 1912, setelah lima hari usai gempa besar di Semenanjung Alaska, salah satu letusan paling besar dari abad ke-20 terjadi dari formasi geologi yang tidak diketahui sebelumnya, yang disebut Novarupta, bahasa Latin untuk "letusan baru". Selama 60 jam, letusan mengirim abu dan batu apung (pumice) ke langit setinggi 30 km dan membuat langit di atas sebagian besar belahan bumi utara menjadi gelap. Material yang dikeluarkan menghujani kembali ke lembah itu, mengubur wilayah seluas 100 km persegi dengan abu dan aliran piroklastik hingga 200 meter. Abu juga menghujani pulau Kodiak yang jauhnya 185 km hingga setinggi 2 kaki, dan asapnya menghasilkan hujan asam sejauh 600 km. Abunya juga menghalangi sekitar 10 persen dari panas matahari selama musim panas 1912.



Empat tahun kemudian, ketika National Geographic Society mengirim Robert F. Griggs untuk cerita sampul, ia menemukan lembah dipenuhi oleh uap panas yang keluar dari ribuan celah dan retakan di tanah. Pemandangan yang luar biasa itu mendorongnya untuk memberi nama lembah tersebut dengan nama "Lembah Sepuluh Ribu Asap".





Griggs Memasak diatas celah yang mengeluarkan uap panas di Lembah 10.000 Asap tahun 1916

Sekarang seratus tahun kemudian, sebagian besar fumarol punah dan lembah tidak lagi penuh dengan asap, tetapi tanda-tanda aktivitas vulkanik masih terlihat di bukit di dekatnya. Wilayah ini telah begitu 'terluka' sehingga pada tahun 1960, digunakan dalam pelatihan astronot AS untuk pendaratan di bulan. Novarupta sendiri adalah benjolan di lantai lembah yang menjulang setinggi 65 meter di atas permukaan. Ketika penjelajah pertama kali memasuki lembah, ini adalah salah satu daerah terpanas dan kubah masih berembus uap hangat.


Kubah Lava Novarupta Saat Ini


Selama letusan sejumlah besar magma terkuras dari ruang magma di bawah mengakibatkan runtuhnya puncak gunung berapi lain - Gunung Katmai, sekitar 10 km jauhnya dari Novarupta. Keruntuhan tersebut menghasilkan kawah berdiameter sekitar dua mil diameter dan sedalam lebih dari 800 kaki. Peneliti awal mengasumsikan bahwa Katmai lah yang bertanggung jawab atas letusan. Tapi sumber sebenarnya dari letusan (kubah novarupta) baru ditemukan pada tahun 1950-an.



Hari ini Anda dapat mengambil perjalanan dari Brooks Camp ke Lembah Sepuluh Ribu Asap, di mana sungai Ukak mengalir dan anak-anak sungainya telah memotong ngarai-ngarai dalam di akumulasi abu. Wilayah ini masih belum pulih dan tanaman telah mulai tumbuh di dasar lembah. Lembah ini belum mampu menunjang kehidupan hewan, tapi rusa dan beruang dapat menyeberang dari waktu ke waktu.

Dibawah ini adalah Foto-Foto dari Lembah 10.000 Asap (berwarna keputihan)



Katmai National Park and Preserve, Alaska. Penampang aliran abu Juni 1912 terpapar oleh Sungai Lethe di Lembah Ten Thousand Smokes


Baca Juga:







Source

Khamis, 1 Januari 2015

Negara Pertama yang Menyongsong Matahari Terbit

Ketika matahari terbenam pada malam 31 Desember, dan dunia menunggu kedatangan tahun baru, sebuah negara kecil kepulauan di sebelah paling timur, sudah mulai perayaan tahun baru. Terletak tepat disebelah barat Garis Penanggalan Internasional (International Date Line), Republik Kiribati adalah salah satu tempat pertama di bumi yang melihat sinar pertama matahari terbit. Zona waktu mereka adalah 14 jam di depan UTC (Temps Universel Coordonné atau Waktu Universal Terkoordinasi) - zona waktu maju terjauh di dunia.

Republik Kiribati terdiri dari 33 atol dan pulau-pulau karang yang rendah di Samudera Pasifik tengah tersebar di lebih dari 3,5 juta kilometer persegi air. Bangsa ini terdiri dari tiga kelompok pulau - Kepulauan Gilbert, Kepulauan Phoenix, dan Kepulauan Line, yang terakhir berada sejauh 30° timur dari 180 ° garis bujur. Secara geografis, Kepulauan Line terletak tepat di selatan dari pulau-pulau Hawaii AS, dan seharusnya berada di zona waktu yang sama. Tapi ini tidak terjadi, karena Garis Penanggalan Internasional di area tersebut bukan garis lurus tetapi zigzag sedikit dan selama bertahun-tahun Garis Penanggalan Internasional disini telah digeser karena berbagai alasan politik dan ekonomi.

Pulau Kirimati, bagian dari Republik Kiribati, adalah salah satu pulau yang dihuni yang mengalami kedatangan tahun baru sebelum masarakat dunia lainnya.

Sebelum tahun 1995, Kiribati mengangkangi Garis Penanggalan Internasional dengan kelompok pulau-pulau timur dan barat memiliki perbedaan waktu 24 jam. Hal ini tentu menjadi gangguan yang menjengkelkan, karena hanya empat hari dalam seminggu yang tersedia untuk kedua belah sisi mengalami hari kerja secara bersamaan, dan praktis hanya di 4 hari itulah kantor-kantor pemerintah di sisi berlawanan dari garis bisa bekerja sama. Untuk mengakhiri situasi ini, Presiden Kiribati pada waktu itu mengumumkan bahwa pada tanggal 1 Januari 1995 Garis Penanggalan Internasional selanjutnya digeser ke arah timur negeri ini, dan karenanya Kiribati menjadi negara pertama yang menyambut sinar matahari terbit yang mengawali milenium ketiga. Untuk merayakan peristiwa itu, mereka bahkan mengganti nama pulau Caroline menjadi pulau Millennium pada tahun 2000.

Pembengkokan Garis Penanggalan Internasional juga menciptakan zona waktu baru UTC +14 yang sebelumnya tidak ada sampai saat itu. Perkembangan baru berarti bahwa beberapa tempat didorong sejauh 26 jam di belakang, atau lebih dari satu hari.


Garis Penanggalan Internasional yang bengkok. Terlihat bagaimana garis dibengkokkan keluar untuk 'membungkus' wilayah Kepulauan Line.

Mengikuti Kiribati, wilayah pulau lain - Tonga, memajukan standar mereka ke UTC + 14 dan karenanya, Tonga juga merayakan tahun baru pada saat yang sama dengan Kepulauan Line di Kiribati. Perubahan garis tanggal di Tonga terjadi baru-baru ini 29 Desember 2011 ketika negara pulau lainnya - Samoa memindahkan Garis Penanggalan Internasional ke sisi lain dari negara itu merubah zona waktu mereka dari UTC -11 ke UTC + 13. Menyusul keputusan Samoa, Tokelau juga memajukan waktu standar merka dari UTC -11 ke UTC + 13.

Meskipun sebuah bangsa berwenang untuk mengubah zona waktu masing-masing, banyak negara dan organisasi tidak mengenali perubahan ini. Garis Penanggalan Internasional didirikan oleh kesepakatan internasional dan tidak ada pakta atau perjanjian formal terkait dengan garis. Negara-negara bebas untuk memilih zona waktu apa pun yang mereka inginkan. Hal ini telah menyebabkan banyak perselisihan garis tanggal antara beberapa negara pulau yang masing-masing mengklaim sebagai yang pertama yang merayakan tahun baru. Lalu timbullah beberapa pertanyaan seperti: Apakah pulau tak berpenghuni juga dihitung, atau apakah lokasi dalam zona waktu yang sama tapi sedikit lebih timur dari yang lain benar-benar dapat mengklaim untuk merayakan hari pertama tahun baru?

Menurut zona waktu yang diterima saat ini, tempat pertama yang menyambut tahun baru adalah Kiribati, diikuti oleh Tonga. Samoa Barat, dan Tokelau, adalah satu jam lebih lambat. Fiji dan Selandia Baru, termasuk Kepulauan Chatham, memiliki Daylight Saving Time selama musim panas belahan bumi selatan, yaitu sekitar tahun baru. Selama waktu ini zona waktu mereka maju ke UTC + 13, kecuali untuk Kepulauan Chatham yang pergi lebih jauh ke UTC + 13,75. Hal ini membuat Selandia Baru termasuk tempat pertama di dunia yang merayakan Tahun Baru - tepat di belakang Kiribati Baris Islands.

Kota besar pertama yang merayakan tahun baru adalah Auckland, Selandia Baru, dan tempat terakhir yang dihuni yang merayakan kedatangan tahun baru adalah pulau Baker dan pulau Howland, keduanya milik Amerika Serikat.

Dan yang paling unik adalah Kepulauan Diomede, karena disana ada dua pulau yang dipisahkan oleh Garis Penanggalan Internasional. Selengkapnya tentang Diomede dapat dilihat disini

Foto satelit dari pulau Caroline, yang namanya diubah menjadi pulau Millennium pada tahun 2000 untuk merayakan milenium baru.

Gambar satelit dari Atoll Atafu, sebuah pulau yang dihuni milik Tokelau, yang terletak di zona waktu UTC + 13.

Pulau Tutuila, Samoa Amerika Serikat, tempat terakhir di bumi yang melihat tahun baru

Pago Pago di pulau Tutuila, Samoa Amerika, tempat terakhir di bumi yang melihat tahun baru



Baca Juga:








Source:

Cincin Tahunan (Annual Rings)

Sebuah pohon tumbuh terbaik selama cuaca basah dan hangat. Setiap tahun cincin atau lingkaran kayu ditambahkan ke gubal (sapwood) dalam batang dan cabang pohon. Ketika cuaca menjadi dingin pada akhir musim gugur dan musim dingin, pohon berhenti tumbuh. Dan mulai tumbuh lagi di musim semi berikutnya ketika cuaca mulai menghangat lagi.



Dengan menghitung jumlah lingkaran pohon (disebut Cincin Tahunan atau Annual Rings) di batang atau di cabang pohon, kita dapat mengetahui berapa tahun bagian pohon itu telah berkembang, dengan kata lain, kita dapat mengetahui usia bagian dari pohon tersebut. Usia batang pohon bagian bawah tentunya akan sama dengan usia pohon tersebut.

Beberapa lingkaran pohon ada yang lebar dan beberapa ada yang sempit. Cincin lebar terbentuk selama satu tahun ketika cuaca sangat baik untuk pertumbuhan, seperti hangat dan basah. Lingkaran-lingkaran sempit terbentuk selama tahun-tahun yang kering atau dingin.

Susunannya pun silih berganti antara warna terang dan gelap.Warna terang terbentuk di musim penghujan dan warna gelap terbentuk di musim kemarau. Sehingga selama setahun, pohon membentuk 2 lingkaran, terang dan gelap.


Hubungan antaran lingkaran terang dan musim penghujan adalah, ketika itu pohon memiliki ketersediaan air yang banyak maka membuat sel-selnya lebih besar, sementara lingkaran yang gelap memiliki sel-sel yang kecil dan menyerap lebih banyak cahaya sehingga lebih gelap.

Sel-sel berwarna terang lebih besar dari yang gelap


Bagaimanakah kronologi secara biologinya?
Tidak semua batang tumbuhan memiliki lingkaran tahun. Hal ini diakibatkan karena tidak semua tumbuhan memiliki jaringan kambium (meristem lateral). Adapun tumbuhan, berdasarkan klasifikasinya (whittacker) dikelompokkan dalam 3 bagian, kelompok tumbuhan lumut (Bryophyta), tumbuhan paku (Pteridophyta) dan tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Tumbuhan berbiji dalam pembagiannya pun terbagi atas dua kelompok, berbiji terbuka (Gymnospermae) dan berbiji tertutup (Angiospermae). Tumbuhan berbiji tertutup sendiri dapat dikelompokkan atas 2 bagian, monokotil (tumbuhan yang memiliki keping biji satu) dan dikotil (tumbuhan yang memiliki dua biji keping).

Lingkaran tahun adalah aktivitas dari pembelahan sel-sel yang ada di cambium. Maka dari itu, yang dapat membentuk lingkaran tahun hanya batang tumbuhan yang memiliki jaringan cambium. Sementara kelompok tumbuhan yang memiliki cambium berasal dari beberapa jenis kelompok Gymnospermae dan kelompok tumbuhan dikotil. Cambium pada batang tumbuhan ini dapat membentuk lingkaran tahun.

Terbentuknya lingkaran selain karena aktivitas cambium, juga dipengaruhi oleh musim. Perkembangan cambium pada saat musim hujan berbeda dengan musim kemarau. Ketika musim hujan, kambium semakin cepat berkembang membelah sel ke dalam dan ke luar. Membelah ke luar akan membentuk floem (berfungsi mengangkut hasil fotosisntesis) dan membelah ke dalam akan membentuk xylem (berfungsi mengangkut air dan mineral dari dalam tanah).


Lingkaran tahun pada batang merupakan perbanyakan sel xylem yang ukurannya lebih besar daripada sel floem. Ketika musim hujan, pertumbuhan jaringan xylem akan lebih cepat mengingat kuantitas air yang akan diserap dari tanah meningkat. Sedangkan ketika musim kemarau, kemampuan cambium membentuk xylem akan berkurang karena kebutuhan dan intensitas menyerap air berkurang. Pada saat musim kemaraupun, xylem yang terbentuk akan lebih kecil ketimbang xylem di musim hujan dan warna yang terbentuk terkesan berwarna lebih gelap dikarenakan sel-selnya yang lebih padat dan kering karena kekurangan air. Sehingga kita dapat melihat ada lingkaran yang coklat tua yang lebih besar dan lingkaran tahun cokelat yang lebih tua. Sehingga untuk menentukan lama waktu 1 tahun, kita dapat memakai dua lingakaran yang cokelat muda dan cokelat tua.

Adapun mekanisme terbentuknya lingkaran tahun disebabkan jaringan kambium yang membelah ke dalam secara bertahap akan membentuk xylem-xilem sekunder dan membelah keluar membentuk floem-floem sekunder. Proses bertambahnya sel ke arah samping pada batang merupakan salah satu contoh pertumbuhan sekunder. Sedangkan pertumbuhan primer adalah pertumbuhan tumbuhan yang menyebakan batang tumbuhan menjadi tinggi dan akar semakin panjang.

Pertumbuhan sekunder pada batang dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam dipengaruhi genetic dan beberapa hormone pembelahan sel aktif meristem seperti auksin dan giberelin. Sementara hormone luar (eksternal) dipengaruhi oleh nutrisi, suhu, cahaya, air dan kelembaban.

Lingkaran tahun adalah fenomena alam yang dimanifestasi suatu tumbuhan yang memiliki cambium. Dan dengan lingkaran tahun kita dapat menghitung usia tumbuhan itu sendiri. Jadi, bukan manusia atau hewan saja yang memiliki ‘umur’, bahkan beberapa tumbuhan pun tiap tahun merayakan ‘ulang tahunnya’.

__________________________________________________________________________________________________

Sebuah Sequoia Raksasa di Museum Sejarah Alam New York, Amerika mengungkapkan berabad-abad sejarah yang disandingkan dengan pertumbuhan cincin pohon. Pasangan dari tanggal sejarah dengan berabad-abad cincin pertumbuhan memberi kita pemahaman yang lebih dalam mengenai bagaimana waktu berlalu dan hal-hal berubah: seperti yang terlihat baik di alam maupun peradaban manusia.







Baca Juga:






 Source